Jan 25, 2012

Manfaat Konten Lokal Buatan Indonesia

Konten lokal Indonesia saat ini mulai berkembang pesat, perkembangan konten lokal diiringi dengan berkembang pesatnya pengguna teknologi khususnya teknologi internet. Indonesia merupakan negara dengan pengguna internet yang cukup besar dan diperkirakan akan semakin meningkat setiap tahunnya. Menggeliatnya konten lokal buatan Indonesia beberapa faktor "perangsangnya" antara lain tersedianya layanan seluler yang menyediakan internet murah, dan adanya konten berbasis mobile aplikasi yang cukup menarik yang disediakan operator seluler, salah satu penyedia layanan yang sudah saya sebutkan diatas adalah XL AxiataKonten seru merupakan salah satu produk yang disediakan oleh provider seluler XL dimana didalamnya terdapat konten/aplikasi mobile yang sangat menarik, antara lain XL baca, XL games, Vu Clip, dan XL Blast. Dengan hadirnya konten-konten menarik yang disediakan oleh operator seluler XL, maka akan sedikit banyak memacu dan menginspirasi anak bangsa yang kreatif untuk membuat konten lokal asli buatan Indonesia.

Sebagai negara yang penduduknya sangat banyak dan juga beragam budayanya, konten lokal buatan Indonesia jelas sangat menguntungkan, karena akan banyak variasi konten sesuai dengan keragaman masyarakat di Indonesia, selain menguntungkan bagi si pencipta konten (kreator), konten lokal juga menguntungkan pula bagi user (pengguna), karena konten lokal akan lebih mudah dan murah diakses oleh masyarakat Indonesia dibandingkan konten asing. Dengan adanya peluang yang luas bagi anak bangsa untuk menciptakan konten lokal, maka secara tidak langsung akan mengasah dan meningkatkan kualitas konten lokal yang akan berkembang secara berkala.

Saya merupakan seseorang yang memiliki hobi traveling, dan saya sadar akan potensi wisata di Indonesia sangatlah besar. Malaysia & Singapura bisa maju salah satu faktor pendukungnya adalah pemanfaatan potensi wisata yang mereka miliki, padahal spot wisata di Malaysia dan Singapura tidak sebanyak dan seberagam di Indonesia, tapi mengapa kualitas pariwisata mereka masih diatas Indonesia?, ironis kan. Nah, sekarang apa hubungannya konten lokal buatan Indonesia dengan pariwisata?, oke, akan coba saya jelaskan dari sudut pandang saya. Coba rekan-rekan bayangkan, Indonesia memiliki sekitar 17.000-an pulau yang tersebar dari sabang sampai merauke, dan disetiap pulau tersebut memiliki potensi wisata alam yang mungkin belum terpublikasi oleh masyarakat kita, saat ini yang menjadi barometer wisata Indonesia hanya Bali, padahal jika dikelola dengan baik dan dipublikasikan dengan baik, maka potensi wisata dibelahan Indonesia yang lain akan sangat menguntungkan bagi negara, masyarakat lokal dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Maka dari itu, menurut pendapat saya, saat ini di Indonesia perlu diberdayakan konten-konten lokal yang mempublikasikan dan memberikan informasi tentang potensi wisata alam di pelosok nusantara, yang saya  ketahui, sepertinya belum ada konten yang demikian. Jika boleh berandai-andai, semoga suatu saat ada konten lokal yang menginformasikan kepada kita mengenai wisata alam dari sabang sampai merauke, mulai dari wisata pantai/laut yang sangat melimpah, wisata gunung, sungai, air terjun, danau, wisata budaya atau bahkan wisata kuliner.

photo 01
photo 02photo 03
Selain menginformasikan tempat wisata adakalanya konten tersebut menyediakan review seputar lokasi wisata, atau informasi rute untuk menuju kesana, dengan begitu akan memudahkan masyarakat mencari informasi alternatif untuk berwisata. Sebenarnya sudah ada konten yang demikian, namun menurut saya kurang melimpah dan kurang lengkap, bahkan saya sering menemukan konten yang isinya hasil copy paste. Akan sangat menyenangkan jika konten yang saya idamkan tersebut benar-benar ada, bayangkan saja, kita tidak perlu repot-repot browsing sana-sini, cukup kunjungi aplikasi yang menyediakan konten tersebut, dan baca informasi yang dicari, selanjutnya kita susun itinerary dan terakhir pergi ke tempat wisata yang menjadi tujuan.

Jan 6, 2012

Indahnya Bandungku : 43 Jam Menikmati Bandung

Meskipun tinggal di Bogor, kota Bandung bukanlah kota yang asing buat saya. Saya asli keturunan orang Sumedang yang notabene sama-sama sunda dan berdekatan dengan Bandung, namun bukan berarti saya hapal seluk beluk tempat-tempat di Bandung, salah besar -__- karena selama ini apabila ke Bandung, yang saya lakukan hanya sebatas mengunjungi sanak saudara atau sedang study tour zaman SD dulu yang peraturannya super ketat, bisa dibilang pada saat itu saya belum benar-benar feel free menikmati setiap sudut kota Bandung yang dikenal sebagai kota Paris Van Java.

Kira-kira setahun yang lalu, saya mempunyai kesempatan berlibur ke Bandung, kali ini bersama teman lama di SMA. Sudah cukup lama memang, namun sampai saat ini masih berkesan, mengapa berkesan?, karena liburan pada saat itu cukup nekat karena agak sedikit dadakan, sampai-sampai rutenya pun searching via internet dan  coba cek review sana sini di blog orang yang memposting pengalamannya berlibur ke Bandung.

Jadilah kami ber-6 liburan ke Bandung dengan menggunakan kendaraan pribadi milik teman saya. Here we go!

4 jam di Punclut, Ciumbuleuit. Setelah lelah menempuh perjalanan dari Bogor, akhirnya tiba juga di Bandung. Hal yang terpintas adalah menghubungi atau mengunjungi salah satu teman yang kuliah disana, syukur-syukur dapet tumpangan buat tidur semalam #ngarep. Tapi malang bagi kita waktu sudah siang menjelang sore tapi tumpangan kostan belum dapet juga, pada akhirnya kita menemui teman SMA yang kuliah di daerah Ciumbuleuit, yang kita temui cewek, kali ini bukan mau minta tumpangan buat tidur semalem di kostannya #gubrak, tapi cuma sekedar silaturahmi dan nanya-nanya seputar rute dan tempat wisata. Kami beristirahat, makan dan berbincang di Punclut, sungguh nyaman rasanya makan disana, apalagi dengan suguhan pemandangan kota Bandung yang membentang, siang aja keren viewnya, apalagi malem kali yah.

Melahap Ayam Bakar di Punclut

10 jam di Geger Kalong, kost-annya Gito. Akhirnya kami dapat juga tempat buat istirahat tidur semalam saja #lol. Kita dapet tebengan di kost-an Gito, adik kelas waktu di SMA dan juga adiknya temen kita juga, beliau kuliah di IT Telkom/STT Telkom *maaf jika salah penulisan. Legaaaaaaa rasanya bisa rebahan, tapi gak enak juga kostan orang jadi sumpek, dibajak pria-pria bapuk yang ceritanya mau ngebolang di Bandung, hahahaha...

Killing Time, Poker Time

8 jam menikmati alam Lembang & Tangkuban Parahu. Pagi-pagi setelah sarapan kami bergegas ke arah Lembang menuju Tangkuban Parahu, dari kami ber enam tidak ada yang hapal jalan menuju kesana, satu-satunya cara adalah menanyakan ke teman by sms, berselancar di dunia maya, cek blog yang membahas rute ke Tangkuban Parahu. Alhamdulillah tiba dengan selamat dan tidak kesasar, hal itu berkat penanda arah jalan yang cukup baik di Bandung. Meskipun bukan yang pertama kalinya ke Tangkuban Parahu, tapi tetap menarik bagi saya, keindahan alamnya benar-benar gak ngebosenin. Saya dan teman-teman coba menikmati setiap sudut Tangkuban Parahu sambil berfoto-foto tentunya #lol. Ada pengalaman baru ketika itu, saya baru tahu kalau disana ada Goa, dan setelah kita telusuri ternyata memang ada, cuman sayangnya sepertinya dipakai buat bertapa yang gitu-gitu deh, terus terang saya gak suka hal-hal yang berbau mistis ada ditempat wisata.

Suasana Parkiran di Tangkuban Parahu

6 jam kebingungan di Lapangan Gasibu. Setelah puas menikmati alam Tangkuban Parahu, kami bergegas menuju Gasibu, niatnya mau ketemu temen SMA yang ngekost di daerah sana, tapi apesnya dengan berbagai alasan kita gagal mendapatkan kostan yang mau kita bajak hanya semalam. Karena waktu sudah maghrib, kami putuskan untuk istirahat, sholat, makan dan bersih-bersih (mandi) disekitar Gasibu. Beruntung bagi kami karena masjid di UNPAD bisa dipakai mandi meskipun agak ngumpet-ngumpet mandinya #lol. Waktu menujukan pukul 8 malam pada saat itu, dan kami masih kebingungan mencari tempat untuk tidur, beberapa menit kemudian, suasana di sekita Gasibu menjadi sangat ramai dan gaduh, ternyata eh ternyata ada balapan liar, yasudah deh daripada pusing mikirin tempat buat tidur, pada akhirnya kami semua terhipnotis menyaksikan balapan liar #gubrak. Hampir 6 jam di Gasibu pada mulanya kami putuskan untuk tidur di Mobil saja di area Gasibu, tapi feeling kami semua bener-bener kurang enak kalau mobil berplat F markir sendiri di area Gasibu, pada akhirnya kita beranjak dari Gasibu karena takut terjadi sesuatu.

Iseng Berfoto di Depan Monumen Pancasila

5 jam nongkrong di Dago Plaza. Akhirnya dapet tempat yang cukup aman buat tidur, beruntung Dago Plaza buka 24 jam pada saat itu. Kami tiba di Dago Plaza tengah malam, karena saya sangat lelah maka saya dan seorang teman memutuskan untuk tidur saja di dalam mobil di area parkiran Dago Plaza, sementara yang lain nongkrong di cafe sembari nonton piala dunia.

10 jam keliling kota Bandung, Ciwalk - Braga - Pasar Baru - Hunting Kartikasari. Hari terkahir kami putuskan untuk berkeliling kota Bandung sambil hunting oleh-oleh. Perjalanan di mulai di Cihampelas, cuci mata siapa tau ada yang pengen di beli buat oleh-oleh, setelah puas jalan-jalan di Cihampelas dilanjut menuju pasar baru, tapi kami buta arah jalan, beberapa jam berputar-putar tapi malah tiba di Braga, walaupun tidak lama di jalan Braga tapi saya cukup menikmati suasana lain dari kota Bandung yang biasa saya lihat, banyak lukisan disana, suasananya cukup klasik tapi eksklusif. Dengan bermodalkan papan penujuk arah jalan, akhirnya kami tiba di Pasar Baru, cukup berat menuju ke lokasi ini, karena sempat nyasar, dan yang paling males, macetnya itu loh #mad. Puas berbelanja oleh-oleh murah di Pasar Baru tujuan terkahir kami adalah berburu Brownies Kartikasari, kalau buat saya ini kewajiban karena pesenan orang rumah, jadi bener-bener wajib dibeli.

Kami ber enam beranjak dari kota Bandung menuju perjalanan pulang ke Bogor kira-kira pukul 6 sore, tiba di rumah masing-masih tengah malam, pengalaman seru!. Oh ya, kalau menurut saya gak perlu takut kesasar kalau ke Bandung, apalagi kalau sudah masuk kota Bandung, dijamin gak akan nyasar, nyasar pun paling masih disekitar Bandung, karena jalan di Bandung memang tidak seribet jalanan di Jakarta, jadi tidak perlu khawatir jika jalan-jalan ke Bandung tapi buta arah, ikutin saja papan penunjuk arah dijamin akan sampai tujuan, seperti yang kami lalukan #lol see you next time Bandung!